|
Senin, 06 April 2009 12:04 |
|
 1. Kita harus memilih ADM, demi mewujudkan keterwakilan sejati masyarakat Sulawesi Utara di tubuh DPR-RI. Enam kursi DPR-RI diperebutkan di wilayah pemilihan Sulawesi Utara. Sedang, ratusan calon dari puluhan partai ‘membidik’-nya. Idealnya pengisian enam kursi itu diupayakan diisi figur-figur yang menggambarkan keterwakilan sejati Sulawesi Utara. Karena hakikinya Sulawesi Utara adalah provinsi dengan komposisi penduduk sangat majemuk -- baik dari sisi etnik/sub etnik, ras, agama, dan daerah pemerintahan tradisional dulu kala. Keterwakilan sejati dimaksud adalah terwakilinya berbagai komponen utama masyarakat Utama Sulawesi Utara itu pada enam kursi yang tersedia itu. Jangan terjadi dominasi etnik atau agama tertentu pada enam kursi itu. Dalam rangka itulah, ADM didorong merebut salah satu kursi itu. Keterpilihannya, Insya Allah, menjadi sosok yang mewakili wilayah geografis Bolaang Mongondow Bersatu (dengan aneka etnik/sub-etnik yang ada) di DPR-RI. Juga bagi kelompok tertentu, ADM diposisikan sebagai wakil dari komunitas Islam Sulawesi Utara. Posisi-posisi ini tentu tidak mengingkari karakter ADM dan keluarganya yg memang sangat plural, baik dari sisi etnis maupun agama.
2. Kita harus memilih ADM, demi memberikan kesempatan pada calon yang muda, penuh semangat dan mampu dari Sulawesi Utara ke DPR-RI. ADM kini berusia 27 tahun. Jelas masih muda, namun penuh semangat dan bersih. Tak dapat disangkal salah satu wacana sosial khas jelang pemilu 2009, adalah aspirasi untuk memberikan kesempatan pada pemimpin bangsa berusia muda. Wacana itu diajukan untuk melawan mitos, seolah hanya mereka yang tua yang berhak atas posisi-posisi pemimpin publik. Mitos ini kadung melupakan fakta sejarah justru bangsa ini didirikan oleh kaum muda, misalnya Soekarno saat jadi presiden berusia 44 tahun, wakil presiden Hatta (43), Perdana Menteri Sutan Sjahrir (36). Karenanya, memilih ADM, akan mendorong peremajaan aktor politik di DPR-RI. Meski berusia muda, ADM datang dari latar belakang pendidikan memadai untuk diserahi tanggungjawab kenegaraan. Makin banyak orang mendukung ADM setelah mereka melihat langsung kefasihan berpidato (public speaking), kecakapan berorganisasi, kreativitas seni, ketaatan ibadah dan keramahannya.
|
|
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 06 April 2009 12:20 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
Minggu, 16 November 2008 13:11 |
|
NAMANYA Aditya Anugrah Moha. Di lingkungan handai taulannya, selama 25 tahun dia akrab disapa dengan nama panggilan, ‘Didi’. Dia terlahir sebagai anak sulung dari pasangan Syamsudin Kudji Moha dan Marlina Moha Siahaan. Tujuh tahun lalu predikatnya berubah. Karena terhitung sejak tahun 2001 orang-orang di daerahnya menyebutnya sebagai: ‘anak bupati’. Itu terjadi setelah ibunya terpilih sebagai Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow pada tahun itu. Posisi itu terus berlanjut setelah ibunya juga terpilih lewat proses pilkada demokratis tahun 2006 lalu. Namun, predikat ’anak bupati’ itu diakuinya sering membuatnya tidak nyaman. ’’Bupati itu adalah jabatan publik yang tidak beranak pinak. Saya tidak ingin dikait-kaitkan dengan jabatan itu. Saya ingin dihargai sebagai pribadi tulen dengan kelebihan dan kekurangan saya,’’ ujarnya pada banyak kesempatan. Didi memang benar. Predikat ’anak bupati’ itu memang jujurnya sekadar atribut semata. ’’Orang sering sinis menilai saya semata mereka pikir saya dapat eksis karena saya anak bupati,’’ ujarnya. Padahal, menurutnya, dia lahir sebagai anak di keluarganya jelas jauh di luar kuasa dan pilihannya. ’’Itu kodrati. Manusia tidak bisa memilih di mana dia dilahirkan. Andai saja bisa memilih di keluarga mana seseorang dilahirkan, saya kira banyak orang akan memilih lahir sebagai anak keluarga Bill Gates bos Microsoft yang kaya raya itu, atau pada keluarga Barack Husein Obama yang baru terpilih sebagai presiden Amerika Serikat ke-44 dan pada keluarga Brad Pitt dan Angelina Jolie atau Bechkam dan Victoria,’’ kelakarnya. |
|
Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 16 November 2008 14:20 )
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 2 |